Cinta Tak Harus Memiliki

Judul Buku : Ayat – Ayat Cinta
Pengarang : Habiburahman El Shirazy
Penerbit : Republika
Cetakan 28 : Januari 2008
Tebal : 419 halaman

Pembukaan :
Sebuah novel telah lahir yang memiliki banyak aspek yang terkandung untuk disampaikan kepada para pembacanya. Inilah sebuah novel Islam, yang merupakan perpaduan antara novel budaya, reliji, cinta, fikih, etika, dan bahasa. Di sini, diungkapkan akan arti cinta yang sejati kepada Allah, dan sesamanya. Novel inilah yang telah menggugah hati banyak orang. Sehingga tak heran karena perpaduan yang unik inilah, novel Ayat – Ayat Cinta menjadi novel best seller nasional di Indonesia.
Melalui goresan pena Habiburahman El Shirazy, novel Ayat – Ayat cinta menjadi novel indah yang mengandung nuansa Islami sebagai bagian dari dakwahnya di jalan Allah. Pria kelahiran Semarang, 30 September 1976 ini telah merampungkan S1 nya di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadis, Universitas AL- Azhar, Cairo dan S2 nya di The Institute for Islamic Studies in Cairo yang didirikan oleh Imam Al – Baiquri (2001). Pria yang biasa dipanggil Kang Abik oleh adik – adiknya telah melahirkan beberapa buah karya, contohnya adalah Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 yang sebentar lagi akan diangkat ke layar lebar seperti novel Ayat – Ayat Cinta yang terlebih dahulu dibuat filmnya, lalu yang terbaru adalah Dalam Mihrab Cinta, dan berbagai buah karya lainnya.

Sinopsis :
Novel Ayat – Ayat Cinta ini menceritakan kisah seorang pemuda yang bernama Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Azhar. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusiasme kecuali satu: menikah.
Kenapa? Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang agresif saat berhadapan dengan mahluk yang bernama perempuan. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini. Neneknya, Ibunya dan saudara perempuannya.
Sepertinya pindah ke Mesir membuat hal itu berubah. Tersebutlah Maria Girgis. Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al Quran. Dan menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayang cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja.
Lalu ada Nurul. Anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak.
Setelah itu ada Noura. Juga tetangga yang selalu disika Ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Sayang hanya empati saja. Tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya.
Terakhir muncullah Aisha. Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya.

Kelebihan dan kelemahan buku :
Para pembaca dapat menambah wawasan dan pengetahuannya tentang islam. Mereka juga dapat menggali potensi dalam membaca sebuah novel yang ilmiah karena novel tersebut sangat menuntut pembaca untuk berpikir. Apabila si pembaca tidak mampu berpikir dalam membaca novel tersebut, maka makna dan pesan yang disampaikan pengarang tidak akan sampai kepada pembaca.
Novel ini banyak mencantumkan bahasa – bahasa asing sehingga para pembaca yang sedikit kesulitan dalam mencerna suatu bacaan harus berusaha keras agar mendapatkan pesan dari novel tersebut. Dan pendekatan sastra murni belum masuk ke sana. Nilai sastra agak kurang. Tapi sebabagi novel pop yang Islami cukup kuat. Dalam pengkajian forum sastra yang akademis, novel ini dianggap novel pop saja, cuma islami.

Pemakaian Bahasa oleh pengarang :
Di dalam novel ini, Kang abik menyuguhkan bahasa yang lugas dan mudah dipahami. Sehingga para pembaca dengan mudah mencerna isi cerita dari novel ini. Terlebih lagi, Kang Abik banyak menyelipkan berbagai macam bahasa dan istilah. Seperti bahasa Jerman dan bahasa Arab, yang semakin membuat novel ini menarik dan sangat disayangkan untuk tidak membacanya. Tetapi jangan kuatir, Kang Abik bukan hanya mencantumkan bahasa lain, tetapi juga mencantumkan arti dari bahasa dan istilah – istilah yang ada di novel tersebut.

Penutup :
Novel Islami modern yang tidak memandang dari satu sisi saja, karena novel ini memuat begitu banyak pengetahuan dan wawasan Islami yang sangat berguna khususnya di kalangan remaja. Kang abik memberikan sentuhan – sentuhan kata lembut yang mengajak kita ke dalam kebenaran mutlak pada Islam. Itulah yang membuat novel ini sangat layak untuk dibaca bukan saja di kalangan remaja, tetapi untuk berbagai kalangan di masyarakat, mulai dari remaja hingga orangtua. Inilah novel Ayat – Ayat Cinta yang merupakan sebuah novel pembangun jiwa.

Kelas : XI.IA.1
Tugas : Resensi Bahasa Indonesia
Kelompok :
1. Afriliani
2. Anisha Fitriana P.K
3. Lita Apriliyanti
4. Rizky Dharmawan
5. Zahra Fauziyyah

AKHIRNYAH SELESAI JUGA!!

INI HASILNYA YANG GUE KIRIM KE BU RINA!!!


*SENANGSS*

KASI COMMENT IA!

4 Komentar

  1. MUNGKIN GINI: KELEBIHAN: “para pembaca dapat menambah wawasan dan pengetahuannya tentang islam, mereka juga dapat menggali potensi dalam membaca sebuah novel yang ilmiah karena novel tersebut sangat menuntut pembaca untuk berpikir. Apabila si pembaca tidak mampu berpikir dalam membaca novel tersebut, maka makna dan pesan yang disampaikan pengarang tidak akan sampai kepada pembaca.

    KEKURANGAN:
    Novel ini banyak mencantumkan bahasa2 asing sehingga para pembaca yang sedikit kesulitan dalam mencerna suatu bacaan harus berusaha keras agar mendapatkan pesan dari novel tersebut. Dan pendekatan sastra murni belum masuk ke sana. Nilai sastra agak kurang. Tapi sebabagi novel pop yang Islami cukup kuat. Dalam pengkajian forum sastra yang akademis, novel ini dianggap novel pop saja, cuma islami.

  2. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berjibaku dengan panas-debu Mesir. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusiasme kecuali satu: menikah.

    Kenapa? Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat berhadapan dengan mahluk bernama perempuan. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini. Neneknya, Ibunya dan saudara perempuannya.

    Betul begitu? Sepertinya pindah ke Mesir membuat hal itu berubah. Tersebutlah Maria Girgis. Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al Quran. Dan menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayang cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja.

    Lalu ada Nurul. Anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak.

    Setelah itu ada Noura. Juga tetangga yang selalu disika Ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Sayang hanya empati saja. Tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya.

    Terakhir muncullah Aisha. Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya.

  3. nie de alamat e-mail nya buu reiina:
    rsugiartinengsih@yahoo.com

    apa lagi yang kurankkk???

  4. tetap semangat dalam menjalankan semua tugas. Istiqomah…
    U’r my best student


Tulis sebuah Komentar

*
*